Hari ini pula, jogja tak berbintang
Entah karena kita yang mengusirnya
Atau bintanglah yang bosan dengan kita
Shu Phu :: Kamis 10 April 2008 :: Jogja Chicken, Jalan Kaliurang, Jogjakarta.
Kamis malam kemarin saya melakukan “ritual” kebiasaan saya. Bukan sebuah ritual mencari kesaktian kanuragan, ataupun ritual-ritual ilmu hitam untuk memperkuat susuk. Tapi hanya sebuah kegiatan yang memang saya lakukan sehari setiap minggu untuk menghilangkan stress. Hari itu kegiatan yang saya pilih adalah mencoba sebuah game online yang baru-baru ini masuk masa Open Beta.
Lalu apa hubungannya Rose Online dengan Jogja Chicken? Yah, gampang saja, sebelum main ke game center, saya makan dulu di Jogja Chicken ^^. Semua ide di kepala saya saat itu diawali saat saya keluar dari Jogja Chicken, berdiri sebentar di “pelataran parkir” sambil melihat lalu lalang sibuknya orang di Jalan Kaliurang, di latar belakangi kerlipan lampu-lampu malam. Satu hal yang saya sukai apabila malam, adalah melihat bintang dan meresapi dinginnya malam.
Sudah hampir dua tahun saya menghabiskan hari-hari dan malam-malam saya di Jogja, dan hampir dua tahun pula setiap saya berjalan-jalan malam hari di Jogja, kata-kata “Malam ini, jogja lagi-lagi tanpa bintang,” selalu terbersit di hati saya. Hanya memberikan sebuah senyum kepada langit, hanya itulah satu hal yang bisa saya lakukan, toh saya juga nggak bisa memaksa bintang untuk bersinar lebih terang, mengalahkan cahaya lampu kota. Saya juga bukan orang yang punya wewenang untuk memadamkan lampu seluruh kota, hanya untuk melihat bintang, juga bukan orang yang terlalu egois untuk mengusahakan itu.
Lalu, kenapa bintang? Bintang sejak dahulu sudah menjadi petunjuk bagi manusia. Baik itu petunjuk mata angin, petunjuk datangnya sebuah musim, dan sering kali menjadi petunjuk nasib seseorang (yang saya percayai kalau baik doank.). Banyak hal yang mmebuat kita perlu memberi sebuah kata “terima kasih” kepada para bintang, mereka sudah memberi banyak manfaat pada kita, walau terkadang kita tidak merasakannya secara langsung.
Bukan, saya bukan sesorang filosof, atau seseorang yang ingin menjadi filosof, lagipula saya juga bukan mahasiswa filsafat. Saya cuma seseorang yang mencoba memandang sebuah dunia apa adanya melalui prespektif saya, dan mencari apa yang melatarbelakangi munculnya dunia tersebut.
Lalu apa yang menarik saya untuk menulis tentang bintang?
Banyak orang yang mengatakan jaman ini adalah jaman edan. Semua yang terjadi adalah sebuah hal-hal yang katanya baru muncul pada jaman ini, dan biasanya disebut sesuatu yang “edan” pada jaman-jaman sebelumnya. Saya terkadang berfikir, kita hidup sudah ada batasan-batasan yang bisa kita pakai untuk panduan atau petunjuk menjalani kehidupan kita, lalu kenapa bisa muncul ke-”edan”-an yang jelas-jelas melanggar batasan-batasan petunjuk tadi? Mungkin karena kita sudah tidak mau lagi untuk memakai batasan-batasan tersebut, atau mungkin petunjuk-petunjuk yang diciptakan orang-orang pendahulu kita sudah kita anggap tidak lagi sesuai dengan jaman yang ada saat ini, sehingga seluruhnya harus ditinggalkan. Atau mungkin, karena kita tidak dapat lagi melihat petunjuk-petunjuk yang ada dikarenakan mata kita sudah ter-buta-kan oleh silaunya hal-hal yang ditawarkan kehidupan saat ini.
Mirip, menurut saya mirip seperti mengapa saat ini kita tidak dapat lagi melihat bintang dengan jelas.
Ah sudahlah, sebuah senyum, sekali pejaman mata yang dibarengi dengan sebuah hirupan nafas yang dalam, bukalah mata, lihatlah dunia di depanmu, dan kita kembali ke kehidupan kita. Saatnya mencoba game baru ^^.
- Shu Phu -
kl mo liat bintang ke bandung aj
tapi mungkin hanya orang-orang beriman aja yang bisa ngeliat bintang di Jogya itu
Huehehehehhe……… ;p
Komentar oleh Kayumi — April 15, 2008 @ 9:54 am
permisiiii…
bintang dari Kendari numpang lewat..
xixixixixi…
Komentar oleh arhamkendari — April 16, 2008 @ 12:59 am
jadi saya bukan termasuk orang beriman yak.. hiks hiks…
/me balik bertapa di padepokan nun jauh di sana.
aih aih, kalau di kendari mah bintang masih banyak ya om, jadi pingin kapan-kapan plesiran ke sana…
Komentar oleh Akimoto Naoki — April 16, 2008 @ 9:09 pm
wuah jogjic yang jakal ya? coba aj yang di pelem kecut gejayan, hehe waitress-nya yahut², Te Ow Pe dah
Komentar oleh sekretariatkuton2008 — Januari 2, 2009 @ 7:38 pm
salam wae kagem mba’ tiny ya…. ada yg kangen dr kerajaan wiralodra,
Komentar oleh Nayaka Geofanny — April 28, 2009 @ 12:04 am