Burung malang,
Menetas dalam sangkar,
Tumbuh besar dalam sangkar,
menghabiskan hidupnya dalam sangkar.
Kasihan,
Dia tak kenal kebebasan,
Hanya tahu bahwa tiap tiga hari,
akan ada jatah makanan dan minuman.
Kasihan,
Celotehnya tak seriang burung-burung bebas,
Suaranya tak semerdu mereka yang hanya berlalu,
Kasihan…
Tapi apa katanya?
Aku tak mau bebas,
Aku lebih suka dikurung,
Aku hidup enak,
Tidak perlu berlelah-lelah terbang,
Tidak perlu mengejar serangga untuk makan,
Tidak perlu terus lari dan bersembunyi dari pemangsa…
Ironis…
- Shu Phu -
Jum’at, 18 April 2008
Shelter bus Trans Jogja, depan PLN dekat Stasiun Tugu, Jogjakarta.
Lagi lagi sebuah (pengennya sih) puisi amburadul. Idenya muncul saat melihat sebuah rumah di daerah Maguwoharjo, Jogjakarta. Tidak terlalu besar, tapi yang menarik perhatianku adalah banyaknya burung yang dipelihara, di samping pelataran depan rumahnyapun juga ada beberapa tiang khusus untuk menggantung sangkar burung. Itu tuh, yang tinggi kaya kalau di acara tanding merdu kicau burung.
Aku kadang berfikir, banyak orang menganggap memelihara binatang dalam sangkar itu menyiksa mereka. Tapi sejak beberapa tahun yang lalu aku juga punya pikiran lain, pada kenyataannya burung-burung tersebut hidup secara enak. Dalam artian makan teratur dan terjamin, terlindung dari binatang buas, dan segala “kemewahan” ala burung lah pokoknya.
Akhirnya kesimpulan yang muncul dari pikiranku adalah menangkap burung liar khusus untuk dijadikan peliharaan adalah perbuatan yang keji. Burung-burung liar tersebut sudah tahu akan nikmatnya hidup bebas, bersusah payah mencari makan, kesulitan dalam menjaga diri dan lain-lain. Tapi melepas burung yang sejak kecil sudah hidup disangkar ke alam bebas juga merupakan perbuatan kejam, sama seperti ibu yang membuang anaknya. Kenapa? Karena burung-burung tersebut tidak tahu akan namanya kebebasan, tidak tahu apa-apa selain dunia di dalam sangkarnya, dan kalau boleh sedikit hiperbolis, memimpikannya pun tak pernah.
Menurutku sama seperti manusia di Indonesia saat ini, kita sudah terlalu lama terkurung di dalam sangkar (masa orde baru). Saat kita memberontak menginginkan kebebasan, beberapa dari kita yang sudah siap akan dengan mudah menghadapi “dunia baru” yang luas. Tapi bagi mereka yang sudah terlalu lama di dalam “sangkar”, dan sudah menikmatinya, akan merasa kesulitan dalam menyesuaikan diri. Hasilnya adalah beberapa-beberapa sikap “penolakan kebebasan” walau secara tidak langsung.
Contoh mudahnya, kita sudah lama berada di bawah sangkar bahwa militer = berkuasa. Sangkar yang memang digunakan pada jaman itu untuk mengatur masyarakat secara mudah, murah, dan efisien. Hingga saat ini pun, walau Polri sudah berusaha menunjukkan citra “Pengayom Masyarakat”, banyak kejadian yang masih menunjukkan sikap “Lebih baik tetap di dalam sangkar.”, baik itu dari masyarakat ataupun dari pihak militernya. Contoh mudah, dari masyarakat masih saja ada orang yang takut kepada polisi walaupun tidak salah apapun, atau lebih kongkritnya lagi masih saja ada masyarakat yang lebih memilih “jalan damai” dengan polisi saat ketahuan melanggar peraturan lalu lintas. Dari polisi pun masih juga ada oknum yang terkadang mencari-cari kesalahan lalu mendorong agar masyarakat memilih damai.
Lalu salah siapa? Salah masyarakat? Tidak, masyarakat sudah terpaku pada “sangkar” kalau bersalah nggak masalah, masih ada “jalan damai” dan “jalan damai” itu terlihat lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat. Walau pada kenyataannya masih ada jalan yang jauh lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat; tidak melanggar peraturan misalnya. Kalau toh tidak sengaja melanggar atau benar-benar diluar kendali, menerima hukuman tilang itu jauh lebih murah, dan lebih mudah selama kita tahu prosedurnya, walau memang tidak lebih cepat.
Lalu apakah itu kesalahan pihak kepolisian? Saya rasa juga tidak, kembali saya tekankan, saat terjadi sebuah perubahan antara berpindah dari dalam “sangkar” menuju “kebebasan”. Maka yang muncul adalah dua kubu : yang bisa menerima dan berpartisipasi dalam perubahan, dan kubu yang menolak dan memilih menghentikan perubahan.
Akhirnya tidak ada penyelesaian yang bisa ditemukan dari pemaparan saya di atas -_-a. Kalau begitu mari kita urut ke belakang, apa sih yang membuat masyarakat dapat memiliki “sangkar” yang sama?
Satu hal yang saya temukan dan saya yakini, adalah sebuah departemen “pembentuk kepribadian” dan “pembentuk sudut pandang nilai” dari masyarakat secara umum. Tidak lain adalah Pendidikan.
Kenapa saya sebut pendidikan adalah departemen pembentuk kepribadian dan sudut pandang nilai? Beberapa minggu yang lalu ada sebuah seminar tentang “Menentukan Lokasi Perjuangan Sosial Melalui Reformasi Pendidikan di Indonesia”. Saya cuma datang di hari pertama, dengan pembicara M. Nurkhoiron, MA dan Dr.Nico Warrouw.
Satu hal yang paling lekat di pikiran saya adalah, mereka mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia ini memaksakan nilai yang ada kepada masyarakat yang heterogen di Indonesia. Hingga yang muncul adalah nilai/pandangan hasil pukul rata. Contoh gampang hasilnya adalah adanya pernyataan bahwa makanan pokok warga Indonesia adalah nasi (beras), semua murid lulusan SD hampir 99.99% akan mengatakan hal itu. Padahal beras/nasi hanya cocok di tanam di daerah jawa/sumatera, di daerah Papua akan lain lagi. Memang kelihatannya ada pernyataan bahwa sagu adalah makanan daerah Papua, tapi pada kenyataannya di sana diadakan penanaman beras untuk dijadikan bahan makanan. Terlihat baik, tapi yang terjadi adakah pembatasan kebebasan masyarakat papua akan apa yang boleh dimakannya. Muncullah sangkar “makanan yang boleh dijadikan makanan pokok rakyat Indonesia adalah nasi”.
Sedikit demi sedikit hal-hal yang terlihat sepele tersebut diulang dan terus diulang, bahkan kita sendiri mungkin tidak menyadarinya. Hingga akhirnya konteks “sangkar” tersebut semakin meluas hingga ke hal-hal yang sangat kecil seperti “pakaian untuk tampil di muka umum haruslah setelan jas, celana panjang hitam yang rapi. Perduli setan kamu suka atau nggak, pakaian selain itu nggak pantas untuk acara-acara di muka umum.”
Sudahlah masalah nilai yang dipukul rata akan saya bahas lain kali. Kembali ke pendidikan, apa yang salah pada pendidikan?
Banyak digembar-gemborkan bahwa pendidikan di Indonesia ini masih butuh dana atau biaya yang sangat besar untuk memajukan pendidikan Indonesia. Terus terang saya setuju dengan pendapat itu, dan saya tidak akan mengomentari pendapat itu.
Tapi yang ada di pikiran saya, apakah pendidikan di Indonesia ini mau untuk dimajukan?
Jangan-jangan sudah terikat pada sebuah sangkar yang tidak ikut terbuka kunci pintunya saat reformasi di gembar-gemborkan awal abad silam. Jangan-jangan karena banyak “petingginya” adalah “anti-kebebasan” maka yang muncul bukannya membuka sangkar pada kebebasan, tapi hanya sekedar “memperbesar sangkar” dengan topeng perubahan kurikulum? Atau mungkin lebih parah lagi, jangan-jangan para pengkonsumsi pendidikan juga sudah terpaku pada sebuah “sangkar” untuk menerima pendidikan apa adanya? Atau lebih parah lagi, mereka menganggap pendidikan hanya sebuah saluran perubahan “kasta” sosial secara instant sehingga selesai dapat ijazah = selesai sudah pendidikan, tidak perduli dapat ilmunya atau tidak.
Ada satu hal yang menarik, kalau dipikir-pikir, apakah para siswa yang belajar tersebut sebetulnya benar-benar ingin belajar?
Aku pernah ngobrol dengan banyak teman, kakak kelas, dan adik kelas. Banyak juga yang mengatakan mereka merasa sekolah itu nggak perlu dan ilmu yang mereka dapatkan di sekolah itu juga nggak perlu. Terus terang saya terkadang juga berfikir seperti itu. Pernah saya coba memikirkan kenapa kok sampai mereka (dan saya) berfikir seperti itu.
Jawaban yang muncul hanya satu, mereka (atau kami, atau kita) terkadang nggak punya impian ke depan. Impian yang ada hanya impian semu yang monoton (jadi dokter, jadi insinyur, jadi presiden, jadi pilot, dll). Diperparah lagi dengan tidak ada tuntunan yang jelas bagaimana mencapai impian kita tersebut melalui pendidikan. Yang ada hanya sebait petuah orang tua “nak, belajarlah yang pinter, biar besok jadi dokter”, yang saya rasa sudah hampir 20 tahun ini nggak berubah.
Isu tentang ketidak mauan murid untuk menerima pelajaran sebetulnya pernah hit beberapa tahun silam, hingga muncul istilah “belajar sambil bermain” untuk memacu anak untuk mau belajar. Program tersebut dalam satu sisi efektif untuk mengajari sisi bawah sadar untuk belajar. Tapi tetap saja, yang menarik dari hal itu adalah bermainnya, bukan belajar.
Lalu apa solusinya? Menurut saya sama seperti cara melepas burung yang sejak kecil disangkarkan. Diperkenalkan dahulu dengan nikmatnya “kebebasan”, dilepas perlahan-lahan, ditunjukkan nikmatnya alam kebebasan. Suatu saat diharapkan burung tersebut dapat terbang dengan mandiri di alam bebas.
- Shu Phu, yang lagi bingung -