Harga BBM di Indonesia akhirnya naik juga. Tepat hari sabtu 24 Mei 2008 jam 00:00, harga Premium jadi 6k, Minyak tanah kalau ga salah jadi 2.5k (Iya ga sih? ga pernah beli minyak tanah, dah ganti kompor gas…)
Balik ke masalah, naiknya BBM banyak yang protes, banyak yang mendukung, biasalah namanya juga kebijakan pemerintah, pemerintah –> politik –> saling menjatuhkan untuk mencari kekuasaan –> alatnya pro kontra dalam masyarakat. Ah sudahlah, kalau masalah politik dibahas di luar aja.
Lalu dimana keberadaan saya, apa pro atau kontra?
Saya sih sejujurnya keberatan dengan naiknya harga BBM, soalnya jarak rumah – kampus itu lebih dari 6 kilo, kalau di total seminggu kira-kira habis 30k, itu waktu harga permium 4.5k, jadi itung aja sekarang jadi berapa ^^. Belum kalau harus pulang ke Solo naik motor, PP aja bensin habis 25k-an pas premium 4.5k. Tapi untunglah, tiket Pramex nggak naik, tetep 7k, tarif Trans jogja juga nggak naik tetep 3k, sayang bis yang nggak ac malah naik jadi 3k juga (harusnya dibayar 2.5k mau, tapi kalau ngasihnya 5k dikembaliin 2k doank, ga ada receh (baca : males bawa receh)).
Tapi kalau ditanya pro atau kontra, sejujurnya saya pro, pro naik BBM, gila ga? padahal “dirugikan” tapi pro.
Kalau dipikir-pikir ya, kenapa kok yang protes itu rakyat miskin? Padahal mereka hanya menanggung tambahan biaya yang nggak sebanyak masyarakat kaya kalau BBM dinaikin. Coba bandingin, kalau rakyat menengah kebawah, beli bensin 20k itupun full tank buat 1 minggu kalau makenya nggak keterlaluan (pengalaman jaman SMA – 2 tahun yang lalu, bbm dah 4.5k lho), kalau orang kaya yang pake mobil, sekali beli full tank isa 100k lebih, itu aja kadang 100k nggak sampai 1 minggu abis, jadi 1 minggu isa isi 2 kali, jadi ditotal 200k/minggu.
Kalau seumpama harga dinaikin, jadi 133.33% (kenaikan premium 33.3% kan? 4.5k jadi 6k), maka kalangan menengah “cuma” akan mendapatkan dampak Rp 6.666,66/minggu, bandingin sama orang kaya yang mendapat dampak 1 minggunya Rp 66.666,66/minggu, lebih banyak kan, jauh lebih banyak, tapi kok mereka ga protes ya? Padahal pendapatan mereka tetap, konsumsi BBM yang mereka butuhkan tetap, kalau harga-harga naik, mereka juga ikut merasakan akibatnya, tapi kok tetep adem ayem ya? Yang ada malahan mahasiswa yang protes kenaikan BBM tapi tetep juga beli BBM yang dah naik, bahkan sampai arak-arakan pakai motor yang mengkonsumsi BBM yang dah naik tadi…. Aneh…
Jawabannya ada di harga bahan kebutuhan harian, sembako lah, jadi naik harga-harga… Memang ini nggak bisa dipungkiri, lalu apa sih yang mensinkronkan harga sembako sama harga BBM, kok bisa kompak?
Saya emang bukan ekonom, bukan juga pedagang, apalagi produsen atau distributor bahan pokok. Tapi kalau nurut nalar saya, BBM diperlukan dalam proses produksi bahan makanan hingga ke tangan konsumen. Mulai dari produksi bahan mentah (beras/penanaman padi misalnya, pake traktor) hingga distribusi, semuanya pake BBM, lalu siapa yang membuat kita sangat tergantung dengan BBM? saya? anda? pemerintah? produsen? ya semuanya, kita semua. Kalau keadaan seperti ini seharusnya bukan hanya sekadar mengatakan kalau BBM naik, bahan pangan dll juga ikut naik, tapi kita juga bisa berkaca tentang diri kita, seberapa tergantungnya kita pada bahan bakar fosil ini.
Miris memang penggunaan mesin berbahan bakar fosil membantu kita dalam meningkatkan produksi, peningkatan produksi dikatakan akan meningkatkan pendapatan dan laba dan meningkatkan kesejahteraan. Tapi kenyataannya malah sebaliknya, penggunaan mesin dalam produksi dan distribusi tidak hanya memacu peningkatan produksi dan tingginya pendapatan, tapi juga memicu membengkaknya biaya yang diperlukan dalam proses tersebut, yang memacu harga jual yang tinggi untuk menutup biaya (+ mencari laba) dari proses produksi dan distribus tersebut. “Kita” yang menuai hasil positifnya, “kita” pula yang menuai akibatnya, sayang hasil positif hanya dinikmati kalangan tertentu, tapi akibat dituai kita semua.
Lalu apa solusinya?
Demo?
Emoh ah, panas-panas, ditemani kepulan asap kendaraan bermotor yang makan BBM yang baru naik tadi…
Interpelasi?
Buat apa diinterpelasi? takut rakyat miskin? ndak usah takut, rakyat kita terlanjur miskin… Takut makin banyak rakyat nggak sejahtera? dah telat om, pakde, tante, dah banyak yang nggak sejahtera…
Didiskusikan dan didebatkan lagi?
Dah basi, rakyat ndak perlu diskusi dan perdebatan masalah BBM ini.
Pemerintah mungkin “hanya” bisa memindahkan anggaran subsidi tersebut ke BLT dan ke sektor lain, tapi kita, rakyat, yang hanya ditoel-toel para penguasa dan elit politik saat masa pemilu doank, bisa melakukan banyak hal. Kurangi ketergantungan kita pada BBM misalnya. Daripada uang 20k (yang bakal jadi 28k pas bbm naik) digunakan untuk beli bensin, mending naik sepeda, kalau jarak pp rumah-sekolah/rumah-kampus/rumah-kantor nggak jauh-jauh amat, terus uang 28k tadi dipake buat apel malem minggu
~~. Atau kalau nggak naik kendaraan umum, berapa sih? pp 6.000×5=30.000, selisih 2k, masih ada kemungkinan penurunan tarif soalnya kejadian naiknya tarif kendaraan umum adalah berkurangnya peminat kendaraan umum itu sendiri. Itu udah + kesempatan melihat dunia di sekitar kita tanpa harus terlalu penat terpaku pada keadaan jalanan, bisa juga dapet kenalan baru di bis, kali aja jodoh ^.^
Ah sudahlah… saya juga jadi bingung sendiri sejujurnya….
:: Shu Phu – yang lagi ngitung uang di dompet, cukup ngga ya buat beli bensin ::