Akhir-akhir ini ada kabar kalau beliau Universitas Gadjah Mada mewajibkan setiap kendaraan bermotor untuk memiliki KIK (Kartu Induk Kendaraan), semacam kartu parkir khusus civitas akademika, karyawan, dan mitra gitu. Salah satu syaratnya adalah fotokopi kartu mahasiswa.
Saya yang notabene hampir *piip* tahun kuliah di UGM, dan belum pernah sekalipun memiliki kartu mahasiswa sedikit bingung, mana nggak bisa pakai GMC. Akhirnya saya pun menyerah dan menyeret kaki saya yang malas ini ke gedung pusat UGM, jaraknya yang amat sangat jauh itulah yang membuat saya sangat malas ke gedung pusat, bayangkan, 100 meter dari FISIPOL.
Sesampainya di sana ada seorang mahasiswa tahun 2008, datang bawa laporan kehilangan KTM dari kepolisian, dan dia sepertinya panik nggak jelas. Dan saat itu pula saya tahu, biaya pembuatan KTM itu 20 ribu, saya ikut panik.
Boro boro 20 ribu, uang saya cuma 50 ribu, kalau saya paksain “beli” KTM, sisa 30 ribu, nggak cukup buat beli bensin pulang ke solo, bisa tersesat di jogja, jadi gelandangan terus bikin usaha kecil kecilan dan jadi jutawan ane kalau gini caranya. Tapi sudahlah, saya beranikan bertanya.
“Pak, saya angkatan 200*piiip* sampai sekarang belum pernah ngambil KTM pak, gimana ya pak?”
“Loh, kalau belum pernah ambil KTM kan ada KTM sementara, yang panjang itu, masih ada?”
“Boro-boro pak masih ada, saya aja lupa dengan eksistensi KTM sementara itu pak, gimana ya pak?”
“Nomor mahasiswa berapa?”
“19*piip*piip*piip*piip* pak.”
“Saudara piko ya?”
“Bener pak.”
“Wah, gimana ya mas. Syarat ngambil KTM baru kan menukarkan KTM sementara.”
“Wah gimana juga ya pak, bagaimana mungkin barang *piip* tahun yang lalu bisa saya temukan diantara tumpukan buku buku tebal yang saya lahap selama kuliah di sini selama *piip* tahun ini?”
“Ya… Iya juga sih ya mas, ya udah saya bikinkan saja. Yang dulu pasti udah dibuang, kita cuma nyimpen sampai angkatan 2008.”
“Oh gitu, makasih banyak pak”
*Sang mahasiswi yang datang duluan tadi masih sibuk mencari nomor mahasiswa di catatan cellphonenya, rasanya ingin saya tanya “mbak, kalau HPnya ilang catatannya ilang, terus gimana mbak?” Tapi sudahlah, daripada muncul diskusi yang ujung-ujungnya itu-itu aja, saya memilih diam*
Sambil ngeprint kartu mahasiswa, sang petugas bertanya.
“Lah mas, kalau KRS-an terus gimana kalau nggak ada kartu mahasiswa? Anda fakultas apa sih?”
“Fisipol pak, di sana nggak usah ngasih KTM, dosen & front officenya hafal semua kok sama mahasiswanya.”
“Oh gitu, Jadi anda kuliah hampir *piip* tahun belum pernah sekalipun punya KTM?”
“Iya pak, belum”
“Edan, ini silahkan, anda belum pernah bikin kan? Nggak usah bayar kalau begitu.”
“Wah, makasih banyak pak.”
dan saya melangkah keluar bagian pendidikan gedung pusat UGM dengan heppi heppi~